MERAUKE, beritaviralid.com – Bantuan yang tidak tepat sasaran dan pembangunan yang belum berdampak optimal menjadi persoalan yang masih dihadapi banyak kampung.

Menjawab tantangan tersebut, Tim 20 Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 IPB University mengenalkan konsep Data Desa Presisi kepada perangkat dan kader kampung di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada 13–14 Oktober 2026.

Kegiatan bertema “Pemanfaatan Data Desa sebagai Upaya Menciptakan Kebijakan Kampung yang Presisi” ini merupakan rangkaian Pendampingan Kampung Percontohan Digital yang berlangsung di Balai Kampung Marga Mulya dan diikuti oleh 20 peserta. 

Ketua Tim 20, Iqbal Irfany menyoroti akar persoalan pembangunan di tingkat kampung.

“Selama ini, niat baik pembangunan belum menghasilkan dampak yang maksimal. Jalan dibangun, tetapi rusak lagi. Bantuan disalurkan, tetapi tidak tepat sasaran. Hal itu terjadi bukan karena kita kurang bekerja keras, tetapi sering kali karena kebijakan tidak didasari oleh data yang akurat,” tegasnya.

Narasumber kegiatan, Lukman Hakim, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia IPB University, menjelaskan bahwa Data Desa Presisi hadir sebagai inovasi metodologi pendataan untuk menjawab persoalan tersebut. 

“Data Desa Presisi memadukan sensus partisipatif, data spasial dari citra drone, dan teknologi digital. Pendataannya dilakukan hingga tingkat individu dan keluarga, sehingga kampung mengetahui secara rinci kondisi setiap warganya beserta lokasinya,” paparnya. 

“Dari data inilah kebijakan kampung dapat dirumuskan secara tepat sasaran, mulai dari verifikasi penerima bantuan hingga penentuan prioritas pembangunan,” sambung Lukman. 

Data itu dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi potensi dan masalah desa, memverifikasi penerima bantuan, hingga memetakan wilayah terdampak bencana.

Data Desa Presisi dikelola secara digital melalui dua kanal. 

WebGIS menyajikan data terperinci berdasarkan nama, alamat, dan koordinat yang aksesnya dibatasi bagi walidata.

Sedangkan website menyajikan data agregat yang dapat diakses masyarakat umum. 

Dengan cara ini, keterbukaan informasi tetap berjalan tanpa mengabaikan kerahasiaan data pribadi warga.

Pada hari kedua, peserta mempraktikkan konsep tersebut melalui diskusi kelompok dengan studi kasus penyediaan air bersih di dua dusun. 

Setiap kelompok mengajukan usulan prioritas yang berbeda, ada yang mempertimbangkan jarak sumber air dan ada pula yang melihat jumlah kepala keluarga terdampak. 

Narasumber mengingatkan, prioritas tidak boleh ditentukan secara terburu-buru, melainkan melalui verifikasi bukti, analisis akar masalah, serta perbandingan alternatif intervensi.

Lukman menambahkan, data yang baik harus akurat, rinci, dan mutakhir. Penentuan prioritas program pun perlu mempertimbangkan urgensi, cakupan dampak, kewenangan desa, serta kelayakan pelaksanaan. 

Hasil analisis tersebut kemudian dituangkan ke dalam RPJM Desa, RKP Desa, dan APB Desa, disertai indikator yang jelas untuk mengukur keberhasilan program.

Kepala Kampung Marga Mulya, Sunaryo mengapresiasi kegiatan ini karena menyentuh persoalan nyata di kampung. 

“Sudah sering terjadi di kampung kita, bantuan disalurkan, tetapi ternyata menyasar orang yang sudah mampu, namun tercatat dalam kategori tidak mampu. Hal ini terjadi karena data yang tidak sesuai,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Kepala Kampung Matara, Roberto. 

“Kegiatan ini sangat membantu kami dalam menyusun konsep pembangunan kampung. Selama ini, kami di kampung sering kali menjalankan program dan kebijakan secara intuitif,” lugasnya. 

“Melalui kegiatan ini, saya berharap ke depannya kampung-kampung di Distrik Semangga dapat lebih partisipatif dan aktif memanfaatkan data kampung sebagai dasar perumusan kebijakan,” imbuh Roberto.

Tim 20 Ekspedisi Patriot IPB University akan terus mendampingi kampung di Distrik Semangga dalam membangun tata kelola pemerintahan berbasis data. 

Upaya ini diharapkan dapat mewujudkan Kampung Percontohan Digital yang mampu menghasilkan kebijakan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat. (Hidayatillah)